Mengedepankan
pengasuhan Otak anak. Kita mengenal banyak
sekali karakter manusia. Dalam film anak saja, ada beberapa perilaku seperti
Dora ( penolong binatang, suka berpetualang dan terkesan cerdas), Sinchan,
Nobita, Giant, Suneo dan masih banyak lagi karakter anak yang menggambarkan
kepribadian dilihat dari perilakunya.
Setiap perilaku dalam
diri manusia sangat dipengaruhi oleh otak. Percaya diri, mandiri, pesimis, bertanggung jawab, empati,
jujur adalah sebagian
dari buah pola asuh kepada otak. Bagaimana otak diberikan stimulus sehingga
manghasilkan karakter-karakter yang berbeda antar manusia. Setiap bagian otak mempunyai fungsi spesifik. Karenanya,
stimulasi atau rangsangan terhadap bagian-bagian otak tersebut sangat
mempengaruhi karakter diri yang mengendap dalam diri seseorang. Sama halnya seperti tumbuhan, otak juga berkembang dan tumbuh
sejak saat anak berada dalam kandungan sang ibu, usia awal kelahiran, sampai
dewasa. Kendati demikian, stimulasi terhadap otak pada anak usia 0-7 tahun
merupakan fase penting dalam pembentukan karakter seseorang.Pada usia inilah
rangsangan pada otak akan mengendap dan memberikan dampak permanen terhadap
karakter anak.
Dapat disimpulkan bahwa kunci membangun karakter anak adalah mengembangkan struktur otak secara optimal sejak usia dini.
Dapat disimpulkan bahwa kunci membangun karakter anak adalah mengembangkan struktur otak secara optimal sejak usia dini.
Karenanya para orang tua dan guru harus mempunyai pemahaman yang benar tentang pola asuh yang ramah otak.
Memahami Struktur-Struktur Otak
Menurut
Kushartanti, berat otak kurang lebih
1350 -1400 gram atau lebih kurang
2% dari berat badan. Tidak ada hubungan langsung antara
berat otak dan besarnya kepala dengan dengan
tingkat kecerdasan. Otak
bertambah besar, namun tetap
berada dalam tengkorak sehingga semakin
lama akan semakin
berlekuk-lekuk. Semakin dalam lekukan
pertanda semakin banyak informasi
yang disimpan, dan
semakin cerdaslah pemiliknya.Ketika anak
memasuki usia 3 tahun, sel otak
telah membentuk sekitar 1.000 triliun jaringan
koneksi/sinapsis. Jumlah ini 2 kali lebih banyak dari yang sel-sel yang ada
pada orang dewasa. Setiap rangsangan atau
stimulasi yang diterima anak akan
melahirkan sambungan baru atau
memperkuat sambungan yang sudah ada
(Suyadi, 2014). Eksplorasi otak selama era otak (Brain Era) yaitu tahun 1990 –
2000 berhasil menunjukkan fakta
bahwa otak menyediakan
komponen anatomis untuk
aspek rasional (Intelligence Quotient = IQ), aspek emosional
(Emotional Quotient = EQ), dan aspek spiritual (Spiritual Quotient = SQ).
Seperti diketahui bahwa dalam satu kepala memang ada tiga cara berpikir
yaitu rasional,
emosional, dan spiritual.
Penemuan mutakhir dalam neurosains
semakin membuktikan bahwa
bagian-bagian tertentu otak bertanggung jawab dalam menata jenis-jenis kecerdasan
manusia. Kecerdasan matematika dan bahasa
berpusat di otak
kiri, meskipun untuk matematika tidak
terpusat secara tegas di otak kiri, sedangkan untuk bahasa tepatnya di daerah
Wernicke dan Brocca. Kecerdasan
musik dan spasial berpusat di otak kanan. Kecerdasan kinestetik sebagaimana
dimiliki oleh olahragawan berpusat di daerah motorik cortex cerebri. Kecerdasan
intra pribadi dan antar pribadi ditata
pada sistem limbik
dan dihubungkan dengan lobus
prefrontal maupun temporal
(Snell, 1996). Setidaknya ada tujuh jenis kecerdasan yang dikemukakan oleh
Gardner (1999) yaitu: linguistik, matematika, spasial, kinestetik, musik, antar
pribadi, dan interpribadi. Selanjutnya Gardner
juga menambahkannya lagi
dengan tiga kecerdasan penting
yaitu: kecerdasan naturalis, eksistensia, dan spiritual.
Meskipun eksplorasi telah dilakukan
secara 4 mengagumkan, namun masih banyak misteri yang
belum terungkap. Dari apa yang telah Terungkap dirumuskan 10
Hukum Dasar Otak (Dryden, 2001) sebagai berikut:
1. Otak menyimpan
informasi dalam sel-sel sarafnya.
2. Otak mempunyai
komponen untuk menciptakan kebiasaan dalam
berpikir dan
berperilaku.
3. Otak menyimpan
informasi dalam bentuk kata, gambar, dan warna.
4. Otak tidak membedakan
fakta dan ingatan. Otak bereaksi terhadap ingatan sama persis
dengan reaksinya
terhadap fakta.
5. Imajinasi dapat
memperkuat otak dan mencapai apa saja yang dikehendaki.
6. Konsep dan informasi
dalam otak disusun dalam bentuk pola-pola.
7. Alat indra dan
reseptor saraf menghubungkan otak dengan dunia luar. Latihan indra dan
latihan fisik dapat
memperkuat otak
8. Otak tak pernah
istirahat. Ketika otak rasional kelelahan
dan tak dapat menuntaskan
pekerjaan, otak intuitif
akan melanjutkannya
9. Otak dan hati
berusaha dekat. Otak yang diasah terus menerus akan menjadi semakin bijak
dan tenang.
Beberapa alasan
mengapa mambangun karakter anak harus dengan mengembangkan struktur otak secara
optimal sejak usia dini karena perkembangan otak 95% terjadi pada saat anak
berusia di bawah tujuh tahun.Selain itu pada anak usia dini atau pada tiga
tahun pertama adalah fase membangun fondasi struktur otak yang dampaknya akan
sangat permanen. Karena itu semua pengalaman masa usia dini memegang kunci
penting dalam membangun fondasi dan semua kemampuan otak anak.
Tidak heran apabila lingkungan anak tempat dia tumbuh tidak baik seperti susila, emosi, motorik, dan kognitif, semua itu akan menentukan potensi anak juga memiliki karakter kurang baik atau tidak berkembang secara positif.
Sebaliknya, apabila lingkungan anak aman, penuh kasih sayang dan kaya dengan beragam stimulasi positif lainnya, maka semua potensi anak yang positif juga akan berkembang secara optimal.Karena adanya stimulus itu maka pembentukan synapse pada otak anak akan terfokus pada bagian otak yang merespons ancaman dari lingkungan luar.
Ada beberapa alasan logis yang menjadi faktor terbentuknya perilaku negatif anak, misalnya anak-anak yang mengalami stres, kekerasan fisik, atau kekerasan seksual.Anak-anak yang mengalami stres kronis karena kurang mendapat perhatian dan kasih sayang, maka akan lebih menstimulasi bagian otak yang merespon untuk bertahan dan menyelamatkan diri.
Bagian otak reptil akan terus distimulasi dan menjadi dominan, sementara bagian otak cortex tidak diaktifkan, sehingga anak pada masa dewasa tidak memiliki kemampuan berpikir dan mengontrol emosi secara baik.Bahkan emosi negatif yang kronis akan membuat otak terbiasa memproduksi cortisol yang akan membuat adrenalin juga tinggi. Akibat tingkat cortisol dalam darah yang tinggi akan membuat pribadi anak akan cepat depresi ketika usia dewasa, sakit jiwa, bahkan fungsi imunitas tubuh juga rendah.
"Dampak kurangnya stimulasi atau eksplorasi terhadap perkembangan otak dibuktikan pula pada hewan yang dipelihara di kebun binatang memiliki otak 20%-30% lebih kecil dibandingkan dengan hewan yang dipelihara di alam liar," ujar Ratna Megawangi. Untuk membentuk karakter positif pada anak, Ratna memiliki tips pola asuh yang ramah otak.
Misalnya dengan memberikan pengalaman emosi positif seperti dekapan.Agar upaya membentuk karakter anak semakin kuat, perlu juga melibatkan otak kiri dan kanan dalam membentuk karakter anak.Anak berusia dua tahun sudah mulai dapat mengetahui benar dan salah. Otak kanan akan menyatukan perasaan benar atau salah yang merupakan domain otak kanan dengan pengetahuan baik dan buruk yang merupakan domain otak kiri.Ratna menganjurkan kepada para orang tua untuk menjadi pribadi yang lembut agar menjadi tempat pertumbuhan karakter yang positif bagi anak.Selain karakter orangtua, lingkungan sekolah juga menjadi penentu semakin maksimalnya perkembangan karakter anak. Maka ada anjuran untuk memilih sekolah yang bebas dari ketakutan, beban, ancaman, dan ejekan.Kalau mungkin, pilihlah sekolah yang memiliki program eksplisit pendidikan karakter seperti misalnya brain-based learning, integrated learning, cooperative learning, contextual learning, dan lainnya.
Tidak heran apabila lingkungan anak tempat dia tumbuh tidak baik seperti susila, emosi, motorik, dan kognitif, semua itu akan menentukan potensi anak juga memiliki karakter kurang baik atau tidak berkembang secara positif.
Sebaliknya, apabila lingkungan anak aman, penuh kasih sayang dan kaya dengan beragam stimulasi positif lainnya, maka semua potensi anak yang positif juga akan berkembang secara optimal.Karena adanya stimulus itu maka pembentukan synapse pada otak anak akan terfokus pada bagian otak yang merespons ancaman dari lingkungan luar.
Ada beberapa alasan logis yang menjadi faktor terbentuknya perilaku negatif anak, misalnya anak-anak yang mengalami stres, kekerasan fisik, atau kekerasan seksual.Anak-anak yang mengalami stres kronis karena kurang mendapat perhatian dan kasih sayang, maka akan lebih menstimulasi bagian otak yang merespon untuk bertahan dan menyelamatkan diri.
Bagian otak reptil akan terus distimulasi dan menjadi dominan, sementara bagian otak cortex tidak diaktifkan, sehingga anak pada masa dewasa tidak memiliki kemampuan berpikir dan mengontrol emosi secara baik.Bahkan emosi negatif yang kronis akan membuat otak terbiasa memproduksi cortisol yang akan membuat adrenalin juga tinggi. Akibat tingkat cortisol dalam darah yang tinggi akan membuat pribadi anak akan cepat depresi ketika usia dewasa, sakit jiwa, bahkan fungsi imunitas tubuh juga rendah.
"Dampak kurangnya stimulasi atau eksplorasi terhadap perkembangan otak dibuktikan pula pada hewan yang dipelihara di kebun binatang memiliki otak 20%-30% lebih kecil dibandingkan dengan hewan yang dipelihara di alam liar," ujar Ratna Megawangi. Untuk membentuk karakter positif pada anak, Ratna memiliki tips pola asuh yang ramah otak.
Misalnya dengan memberikan pengalaman emosi positif seperti dekapan.Agar upaya membentuk karakter anak semakin kuat, perlu juga melibatkan otak kiri dan kanan dalam membentuk karakter anak.Anak berusia dua tahun sudah mulai dapat mengetahui benar dan salah. Otak kanan akan menyatukan perasaan benar atau salah yang merupakan domain otak kanan dengan pengetahuan baik dan buruk yang merupakan domain otak kiri.Ratna menganjurkan kepada para orang tua untuk menjadi pribadi yang lembut agar menjadi tempat pertumbuhan karakter yang positif bagi anak.Selain karakter orangtua, lingkungan sekolah juga menjadi penentu semakin maksimalnya perkembangan karakter anak. Maka ada anjuran untuk memilih sekolah yang bebas dari ketakutan, beban, ancaman, dan ejekan.Kalau mungkin, pilihlah sekolah yang memiliki program eksplisit pendidikan karakter seperti misalnya brain-based learning, integrated learning, cooperative learning, contextual learning, dan lainnya.
SUMBER : www.researchgate.net

Tidak ada komentar:
Posting Komentar