Senin, 07 Januari 2019

POLA ASUH RAMAH OTAK

HAPPY PARENTING : POLA ASUH RAMAH OTAK

Mengedepankan pengasuhan Otak anak. Kita mengenal banyak sekali karakter manusia. Dalam film anak saja, ada beberapa perilaku seperti Dora ( penolong binatang, suka berpetualang dan terkesan cerdas), Sinchan, Nobita, Giant, Suneo dan masih banyak lagi karakter anak yang menggambarkan kepribadian dilihat dari perilakunya.

Setiap perilaku dalam diri manusia sangat dipengaruhi oleh otak. Percaya diri, mandiri, pesimis, bertanggung jawab, empati, jujur adalah sebagian dari buah pola asuh kepada otak. Bagaimana otak diberikan stimulus sehingga manghasilkan karakter-karakter yang berbeda antar manusia. Setiap bagian otak mempunyai fungsi spesifik. Karenanya, stimulasi atau rangsangan terhadap bagian-bagian otak tersebut sangat mempengaruhi karakter diri yang mengendap dalam diri seseorang. Sama halnya seperti tumbuhan, otak juga berkembang dan tumbuh sejak saat anak berada dalam kandungan sang ibu, usia awal kelahiran, sampai dewasa. Kendati demikian, stimulasi terhadap otak pada anak usia 0-7 tahun merupakan fase penting dalam pembentukan karakter seseorang.Pada usia inilah rangsangan pada otak akan mengendap dan memberikan dampak permanen terhadap karakter anak.
Dapat disimpulkan bahwa kunci membangun karakter anak adalah mengembangkan struktur otak secara optimal sejak usia dini.

Karenanya para orang tua dan guru harus mempunyai pemahaman yang benar tentang pola asuh yang ramah otak. 

Memahami Struktur-Struktur Otak
  Menurut Kushartanti, berat otak kurang lebih  1350 -1400 gram atau lebih kurang
2% dari  berat badan. Tidak ada hubungan langsung antara berat  otak dan besarnya kepala dengan  dengan   tingkat  kecerdasan.  Otak  bertambah  besar, namun tetap berada  dalam tengkorak sehingga semakin lama akan    semakin  berlekuk-lekuk.  Semakin  dalam  lekukan pertanda  semakin    banyak  informasi  yang  disimpan,  dan
semakin  cerdaslah pemiliknya.Ketika  anak  memasuki usia 3 tahun, sel  otak telah membentuk sekitar 1.000  triliun jaringan koneksi/sinapsis. Jumlah ini 2 kali lebih banyak dari yang sel-sel yang ada pada orang dewasa. Setiap  rangsangan atau stimulasi yang diterima  anak akan melahirkan sambungan baru  atau memperkuat sambungan yang sudah  ada (Suyadi, 2014). Eksplorasi otak selama era otak (Brain Era) yaitu tahun 1990 – 2000 berhasil menunjukkan fakta  bahwa  otak  menyediakan  komponen  anatomis  untuk  aspek  rasional  (Intelligence Quotient = IQ), aspek emosional (Emotional Quotient = EQ), dan aspek spiritual (Spiritual Quotient = SQ). Seperti diketahui bahwa dalam satu kepala memang ada tiga cara berpikir
yaitu  rasional,  emosional, dan  spiritual. Penemuan  mutakhir dalam  neurosains  semakin  membuktikan bahwa bagian-bagian tertentu otak bertanggung jawab dalam menata jenis-jenis  kecerdasan  manusia.  Kecerdasan  matematika  dan  bahasa  berpusat  di  otak  kiri, meskipun untuk matematika tidak terpusat secara tegas di otak kiri, sedangkan untuk bahasa tepatnya di daerah Wernicke dan Brocca. Kecerdasan musik dan spasial berpusat di otak kanan. Kecerdasan kinestetik sebagaimana dimiliki oleh olahragawan berpusat di daerah motorik cortex cerebri. Kecerdasan intra pribadi dan antar pribadi ditata
pada  sistem limbik  dan  dihubungkan dengan  lobus  prefrontal maupun  temporal (Snell, 1996). Setidaknya ada tujuh jenis kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner (1999) yaitu: linguistik, matematika, spasial, kinestetik, musik, antar pribadi, dan interpribadi. Selanjutnya Gardner  juga  menambahkannya  lagi  dengan  tiga kecerdasan  penting  yaitu:  kecerdasan naturalis,  eksistensia,  dan  spiritual.  Meskipun  eksplorasi  telah  dilakukan  secara 4 mengagumkan, namun masih banyak misteri yang belum terungkap. Dari apa yang telah Terungkap dirumuskan 10 Hukum Dasar Otak (Dryden, 2001) sebagai berikut:
1. Otak menyimpan informasi dalam sel-sel sarafnya.
2. Otak mempunyai komponen untuk menciptakan kebiasaan dalam
berpikir dan berperilaku.
3. Otak menyimpan informasi dalam bentuk kata, gambar, dan warna.
4. Otak tidak membedakan fakta dan ingatan. Otak bereaksi terhadap ingatan sama persis
dengan reaksinya terhadap fakta.
5. Imajinasi dapat memperkuat otak dan mencapai apa saja yang dikehendaki.
6. Konsep dan informasi dalam otak disusun dalam bentuk pola-pola.
7. Alat indra dan reseptor saraf menghubungkan otak dengan dunia luar. Latihan indra dan
latihan fisik dapat memperkuat otak
8. Otak tak pernah istirahat. Ketika otak rasional  kelelahan dan tak dapat  menuntaskan
pekerjaan, otak intuitif akan melanjutkannya
9. Otak dan hati berusaha dekat. Otak yang diasah terus menerus akan menjadi semakin bijak
dan tenang.

Beberapa alasan mengapa mambangun karakter anak harus dengan mengembangkan struktur otak secara optimal sejak usia dini karena perkembangan otak 95% terjadi pada saat anak berusia di bawah tujuh tahun.Selain itu pada anak usia dini atau pada tiga tahun pertama adalah fase membangun fondasi struktur otak yang dampaknya akan sangat permanen. Karena itu semua pengalaman masa usia dini memegang kunci penting dalam membangun fondasi dan semua kemampuan otak anak.
Tidak heran apabila lingkungan anak tempat dia tumbuh tidak baik seperti susila, emosi, motorik, dan kognitif, semua itu akan menentukan potensi anak juga memiliki karakter kurang baik atau tidak berkembang secara positif.
Sebaliknya, apabila lingkungan anak aman, penuh kasih sayang dan kaya dengan beragam stimulasi positif lainnya, maka semua potensi anak yang positif juga akan berkembang secara optimal.Karena adanya stimulus itu maka pembentukan synapse pada otak anak akan terfokus pada bagian otak yang merespons ancaman dari lingkungan luar.

Ada beberapa alasan logis yang menjadi faktor terbentuknya perilaku negatif anak, misalnya anak-anak yang mengalami stres, kekerasan fisik, atau kekerasan seksual.Anak-anak yang mengalami stres kronis karena kurang mendapat perhatian dan kasih sayang, maka akan lebih menstimulasi bagian otak yang merespon untuk bertahan dan menyelamatkan diri.
Bagian otak reptil akan terus distimulasi dan menjadi dominan, sementara bagian otak cortex tidak diaktifkan, sehingga anak pada masa dewasa tidak memiliki kemampuan berpikir dan mengontrol emosi secara baik.Bahkan emosi negatif yang kronis akan membuat otak terbiasa memproduksi cortisol yang akan membuat adrenalin juga tinggi. Akibat tingkat cortisol dalam darah yang tinggi akan membuat pribadi anak akan cepat depresi ketika usia dewasa, sakit jiwa, bahkan fungsi imunitas tubuh juga rendah.

"Dampak kurangnya stimulasi atau eksplorasi terhadap perkembangan otak dibuktikan pula pada hewan yang dipelihara di kebun binatang memiliki otak 20%-30% lebih kecil dibandingkan dengan hewan yang dipelihara di alam liar," ujar Ratna Megawangi. Untuk membentuk karakter positif pada anak, Ratna memiliki tips pola asuh yang ramah otak.
Misalnya dengan memberikan pengalaman emosi positif seperti dekapan.Agar upaya membentuk karakter anak semakin kuat, perlu juga melibatkan otak kiri dan kanan dalam membentuk karakter anak.Anak berusia dua tahun sudah mulai dapat mengetahui benar dan salah. Otak kanan akan menyatukan perasaan benar atau salah yang merupakan domain otak kanan dengan pengetahuan baik dan buruk yang merupakan domain otak kiri.Ratna menganjurkan kepada para orang tua untuk menjadi pribadi yang lembut agar menjadi tempat pertumbuhan karakter yang positif bagi anak.Selain karakter orangtua, lingkungan sekolah juga menjadi penentu semakin maksimalnya perkembangan karakter anak. Maka ada anjuran untuk memilih sekolah yang bebas dari ketakutan, beban, ancaman, dan ejekan.Kalau mungkin, pilihlah sekolah yang memiliki program eksplisit pendidikan karakter seperti misalnya brain-based learning, integrated learning, cooperative learning, contextual learning, dan lainnya.
SUMBER : www.researchgate.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAHAYA GADGET DAN CARA MENGATASINYA

Beberapa orang tua juga membelikan anak-anaknya handphone, agar mudah memonitor keberadaan anak mereka. Di daerah-daerah yang rawan ter...

Generasi Milenial paham Al-Quran

Cari Blog Ini