Senin, 28 Januari 2019

BAHAYA GADGET DAN CARA MENGATASINYA


Beberapa orang tua juga membelikan anak-anaknya handphone, agar mudah memonitor keberadaan anak mereka. Di daerah-daerah yang rawan terjadi penculikan anak, membiasakan anak untuk berkomunikasi dengan HP akan cukup membantu orang tua mengawasi anak-anaknya. Tapi di sisi lain, pemakaian gadget sejak usia dini juga dapat membawa dampak negatif bagi anak-anak, baik bahaya yang langsung kelihatan maupun bahaya yang dampaknya jangka panjang. Berikut dirangkum beberapa bahaya gadget pada anak-anak :
1.  Resiko radiasi elektromagnetik.
2.  Berbeda dengan orang dewasa, tubuh anak-anak terutama anak yang berusia di bawah lima tahun sangat sensitif terhadap resiko bahaya dari lingkungannya. Kita ketahui bersama bahwa setiap gadget memiliki paparan elektromagnetik yang dapat mempengaruhi tubuh. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja tidak disarankan untuk terpapar radiasi elektromagnetik dalam jangka waktu lama. Untuk anak 1-3 tahun yang saraf-sarafnya sementara berkembang, radiasi elektromagnetik dari lingkungan di sekitarnya dapat menghambat perkembangan tersebut. Akibatnya perkembangan kogintif anak berjalan lambat, anak susah berkonsentrasi dan akibat negatif lainnya.
3.  Kemampuan psikomotorik berkurang.
4.  Menghabiskan waktu dengan gadget membuat kemampuan anak yang lain kurang berkembang, salah satunya adalah kemampuan psikomotorik anak. Padahal semestinya usia anak-anak adalah usia untuk mengeksplor seluruh bakat psikomotorik yang dimilikinya, seperti menggambar, bernyanyi, bermain bersama rekan sebaya dan kegiatan lainnya. Saat melakukan aktivitas fisik seperti ini, sejumlah kemampuan lain juga akan diasah sekaligus. Seperti saat menggambar, anak juga belajar mengembangkan otak kanannya. Saat bermain bersama rekan sebaya, anak akan belajar mengasah keterampilan sosialnya.
5.  Kesulitan beradaptasi dengan materi pelajaran.
6.  Aplikasi-aplikasi dan sistem operasi pada gadget menyajikan interaksi multimedia yang memikat. Permainan warna, animasi ditambah suara membuat anak betah berlama-lama di depan layar gadget. Pada saat masa sekolah tiba, anak yang terbiasa berinteraksi dengan gadget akan menemui kesulitan untuk menyerap materi pelajaran sekolah yang cenderung statis. Teks hitam putih, tanpa animasi, tanpa suara. Apalagi berhadapan dengan guru yang kurang lihai mengemas mata pelajaran menjadi menarik. Ini bisa menurunkan minat belajar anak.
7.  Walau bahaya kecanduan lebih sering terjadi pada pengguna gadget yang usianya lebih dewasa, orang tua juga mesti tetap berhati-hati terhadap resiko kecanduan gadget pada anak-anak. Tanpa pengawasan dari orang tua, ada kemungkinan anak bisa menjadi gadget-holic alias kecanduan gadget.
8.  Mengingat resiko-resiko yang bisa terjadi ini, orangtua mesti berpikir lebih bijak sebelum memperkenalkan gadget kepada anak-anaknya.
9.   Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, pada usia berapa idealnya orang tua mengizinkan anak-anaknya menggunakan gadget?
10.  Banyak literatur yang mengungkapkan pemakaian gadget baru diperkenankan pada anak yang berusia 10-13 tahun. Ada juga yang memberi rekomendasi usia dibawahnya. Dr. Ahmad Suryawan seorang Dokter spesialis anak konsultan bidang tumbuh kembang mengatakan bahwa jika ingin memberikan gadget pada anak, sebaiknya orang tua melakukannya pada saat anak sudah berusia di atas 6 tahun, karena pada saat itu perkembangan anatomi otak anak sudah 95% dari otak dewasa.
11.      Untuk usia dibawahnya misalnya pada anak berumur 2-3 tahun, memperkenalkan gadget BOLEH saja tetapi sebatas memperkenalkan pada bentuk, warna atau suara yang dihasilkannya, ini untuk merangsang kemampuan visual dan pendengaran anak. Selanjutnya, untuk anak yang sudah diperkenankan menggunakan gadget, orang tua harus memainkan peran sebagai pengawas.
12.      Untuk mencegah kecanduan, anak-anak harus diberi batas waktu berapa lama harus menggunakan gadget setiap harinya. Untuk gadget pada anak yang doyan bermain game, hindari menginstal aplikasi games yang mengandung unsur kekerasan. Apa yang dimainkan anak pada game tersebut diserap oleh anak dan cenderung akan dipraktekkan di dalam kehidupan nyatanya. Anak juga tidak BOLEH dibiarkan begitu saja mengakses aplikasi-aplikasi gadget sesukanya. Filterlah aplikasi-aplikasi yang akan diakses oleh anak. Dampingilah anak jika harus menjelajah internet, agar anak tidak sampai menelusuri situs bertema pornografi atau kekerasan.
13.      Di Rumah Tumbuh Daycare, diberlakukan aturan baku bahwa tidak ada aktivitas penggunaan gadget selama berinteraksi dengan anak-anak. Anak-anak juga tidak difasilitasi dengan kegiatan menonton televisi, bahkan di Rumah Tumbuh Daycare tidak ada televisi kecuali televisi yang digunakan sebagai monitor CCTV Online Rumah Tumbuh. Tim Guru dan pengasuh juga dibatasi menggunakan gadget saat sedang beraktivitas bersama anak-anak, setidaknya kami menjauh dari anak-anak sejenak jika ada hal darurat yang mengharuskan kami menggunakan gadget. Anak-anak lebih banyak difasilitasi dengan aktivitas yang mendukung tumbuh kembangnya secara optimal seperti bernyanyi, membaca buku, serta bermain dengan aneka permainan edukatif lainnya. Penting bagi kami mengisi aktivitas anak-anak dengan aktivitas-aktivitas menarik, sehingga keberadaan kami tidak tergantikan oleh layar berbatas ukuran sekian inci.
Mengatasi anak yang kecanduan gadget
1.  Luangkan waktu untuk bermain dan berdiskusi dengan anak
Jangan biarkan anak merasa jika gadget yang mereka mainkan lebih asyik dibanding dengan bermain bersama orang tuanya, sempatkanlah waktu untuk bermain bersama anak walaupun hanya sebentar, berikan pengertian serta pemahaman dengan cara berdiskusi secara baik baik bahwa sebenarnya ada akibat-akibat yang kurang baik bila mereka terlalu lama dan terlalu sering memainkan gadget, bila perlu berikan ilustrasi berupa gambar atau efek yang dapat ditimbulkan dari pemakaian gadget.
2.  Berikan alternative mainan untuk anak
Saat ini banyak mainan anak yang edukatif sehingg mampu membuat anak untuk lebih pandai dan kreatif, mungkin beberapa orang berpendapat bahwa mainan edukatif cenderung mahal tapi percayalah hal itu tentu akan sebanding dengan manfaat yang didapatkan. Bila anak kurang tertarik dengan mainan edukatif bisa juga diberikan mainan lain yang dapat Anda sesuaikan masing-masing sesuai dengan ketertarikan anak, yang penting anak tidak lagi terlalu sering terpapar gadget setiap harinya.
3.  Berikan batasan waktu bermain gadget dan batasan pemakaian internet
Dalam hal ini kita harus bisa bersikap tegas pada anak, bila telah terjadi kesepakatan antara anak dengan orang tua dalam hal pemakaian gadget dan internet maka kita harus menerapkan kesepakatan tersebut, misalnya kita buat kesepakatan anak hanya boleh bermain gadget pada hari libur dan itupun hanya 2 jam, bila anak melanggar hal tersebut tegaslah dalam mengaturnya, jangan mudah luluh oleh rayuan anak ataupun menjadi mudah marah jika anak sulit untuk diatur, coba bicarakan kembali mengenai kesepakatan tersebut dengan anak, agar anak juga bisa belajar disiplin dalam mematuhi aturan rumah.
Demikian ulasan singkat mengenai dampak buruk gadget bagi anak dan cara mengatasinya. 


Kamis, 17 Januari 2019

PERTANYAAN TERBAIK UNTUK ANAK SEPULANG SEKOLAH


Setelah beraktivitas seharian, biasanya kita bakal ngobrol nih, Bun, sama anak. Nah, biasanya kalau buka obrolan sama anak pertanyaan apa sih yang Bunda ajukan ke anak? Kalau pertanyaan 'gimana di sekolah hari ini' sering Bunda tanyakan, ada baiknya kita ubah yuk, Bun. 

Kata psikolog Giuliett Moran dari Empowering Parents, penting buat orang tua lebih spesifik saat bertanya ke anak soal hari-hari mereka. Bertanya ke anak pertanyaan yang general seperti 'gimana hari ini?' biasanya akan membuat anak merespons dengan satu kata. Makanya, kata Moran bertanya pertanyaan yang spesifik dan terbuka lebih mungkin membuat anak terlibat obrolan sama kita.

"Baiknya kita bertanya ke anak soal perasaan dan emosinya untuk membangun ketahanan diri anak. Karena, anak butuh mampu mengidentifikasi, melabeli, dan mengkomunikasikan perasaannya. Penting sekali mendiskusikan perasaan anak sebagai bagian rutinitas sehingga ini bisa membangun intelijensi sosial dan emosional yang penting untuk kesuksesan anak ke depannya," papar Moran dikutip dari Essential Kids.
Tapi tahukah bahwa kalau pertanyaan yang diajukan selalu itu-itu saja malah akan membu
at kebosanan diatara keduanya. Jangan sampai hal itu terjadi.


Banyak pertanyaan namun tak mampu menggali mengenai perkembangan perilaku, atau kegiatan sosial anak ketika berada di sekolah. Sebisa mungkin menjadi permbicaraan yang menyenangkan.

Sangatlah wajar kalau orangtua bertanya kepada anaknya mengenai aktivitasnya selama di sekolah. Hal tersebujt merupakan bukti bentuk kasih sayang orangtua kepada anaknya.


Namun jangan sampai asal tanya saja, apalagi sampai menjrus pada masalah interogasi pada anaknya. Hanya perlu diingat bahwa setiap pertanyaaan selalu arahkan pada rasa kasih sayang.





Berikut ini contoh-contoh pertanyaaan terbaik untuk anak selepas dia pulang sekolah.

8 Contoh Pertanyaan Terbaik untuk Anak Sepulang Sekolah


1. Bagaimana kabar Adik hari ini? Kalau ibu seh bahagia, tsdi pagi ibu.....(orang tua bisa memulai percakapan).


2. Bu Guru tadi cerita apa saja di kelas? Apakah sudah pernah mendengar ceritanya? Siapa saja tokohnya?

3. Adik tadi membantu apa di sekolah?
Membantu menghapus papan tuliskah? Atau membantu apa?

4. Jajan apa saja tadi di sekolah?

5. Apa yang menyenangkan terjadi hari ini di sekolah?

6. Siapa anak terlucu di kelas? Coba ceritakan pada ibu.

7. Kapan Adik merasa bosan di seoklah?

8. Apakah ada yang mengganggumu hari ini?

Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang sifatnya benar-benar menampilkan ungkapan kasih sayang antara ibu dan anak-anaknya.

Kegiatan seperti ini sangatlah baik sebagai ajang untuk anak dalam belajar cara-cara berkomunikasi yang baik. Berilah contoh kepada anak untuk menyampaikan isi pikiran dan sopan santun berbicara terhadap yang lebih tua.

sumber : https://www.haibunda.com dan psikologan.blogspot.com

Kamis, 10 Januari 2019

MENGAPA ANAK SUKA BERBOHONG

Tidak ada orangtua yang ingin anaknya memiliki kebiasaan berbohong. Tetapi tahukah anda, bahwa seorang anak sudah bisa berbohong sejak berusia empat tahun? Pertanyaannya adalah mengapa anak berbohong?
Apakah karena mereka tidak mempunyai konsep moral yang baik, atau karena berbohong adalah satu-satunya pilihan untuk memperoleh apa yang mereka inginkan? Saat anak memasuki usia sekolah, biasanya berbohong dilakukan untuk mendapat apa yang mereka anggap berharga. Misalnya, untuk memperoleh benda yang diinginkan, mendapat penghargaan atau pujian.
Berbohong juga biasa dilakukan anak untuk menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan, seperti menutupi rasa takut atau hukuman. Dan kebohongan semacam ini seringkali lolos dari perhatian orangtua.
Salah satu kebiasaan berbohong yang paling sering dilakukan anak adalah dengan berpura-pura sakit. Biasanya kebohongan ini kerap kali dijadikan jalan keluar oleh anak, untuk menghindari hukuman atau situasi yang tidak menyenangkan di sekolah.
Hal semacam ini adalah akibat dari ketidakpahaman anak tentang arti berbohong. Ada 9 alasan mengapa anak suka berbohong, dan kondisi ini wajib untuk dipahami oleh setiap orangtua.
1. Takut dihukum
Sebuah studi menemukan bahwa hukuman justru membuat anak tidak mau mengatakan kebenaran. Hal ini terjadi karena kekhawatiran anak ketika dia mengatakan hal yang sebenarnya, mereka justru akan dihukum. Ada pula anak yang semula jujur menjadi berlatih berbohong karena perlakuan orangtua yang menghukumnya saat ia jujur. Karena itulah seringkali anak berbohong karena ia takut kalau berkata jujur akan dimarahi atau mendapatkan hukuman.
2. Ingin diperhatikan dan dipuji
Kebutuhan akan perhatian dan pujian kerap kali membuat anak mengarang cerita tentang dirinya, padahal hal tersebut tidak pernah terjadi. Misalnya, anak mengatakan kepada teman-temannya bahwa dirinya berhasil menjuarai suatu lomba, baru dibelikan mainan baru yang mahal, atau akan diajak jalan-jalan ke luar negeri.
3. Keinginan mendapatkan pengakuan
Jika anak bergaul dengan teman-teman yang suka berbohong, ia pun akan bertingkah laku yang sama dengan teman-temannya. Sebab, hanya dengan menunjukkan perilaku yang sama anak merasa dapat diterima oleh kelompoknya.
4. Tuntutan orangtua yang terlalu tinggi
Seringkali orangtua memberi tuntutan yang terlalu tinggi pada anak, sedangkan anak merasa tidak mampu untuk memenuhi tuntutan tersebut. Akibatnya anak pun berbohong untuk membahagiakan dan mendapatkan penerimaan dari orangtua.
5. Meniru orangtua atau tayangan televisi
Anak akan meniru perilaku orang dewasa disekitarnya. Jika orangtua memberikan alasan dan mengatakan sesuatu yang bersifat bohong untuk menghindari suatu kegiatan di depan anaknya, maka berarti secara tidak sadar orangtua telah memberikan contoh yang buruk kepadanya. Ketika anak melihat orangtuanya berbohong atau mengetahui orang-orang yang berbohong dari televisi, anak akan menganggap bahwa berbohong itu boleh dilakukan.
6. Menutupi kekurangan pada dirinya
Anak yang merasa memiliki kekurangan tertentu biasanya akan berusaha menutupi kekurangan tersebut dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan berbicara bohong yang melebih-lebihkan dirinya, yang berkebalikan dengan kekurangan yang dimilikinya.
7. Daya imajinasi yang sangat tinggi
Kadang daya imajinasi yang sangat tinggi membuat anak tidak mampu membedakan antara khayalan dan kenyataan. Ia pun kemudian mengatakan hal-hal yang sebenarnya hanya khayalan belaka. Misalnya, anak mengatakan bahwa dirinya bisa melihat hantu atau dapat melakukan berbagai pekerjaan.
8. Untuk mendapatkan keinginannya
Anak mengetahui bahwa dia tidak akan dapat memperoleh apa yang diinginkannya jika bersikap jujur. Oleh karena itu, anak berbohong demi mendapatkan apa yang diinginkannya.
9. Melindungi teman
Keberadaan teman begitu penting buat anak. Umumnya anak-anak akan selalu berusaha untuk menyenangkan, membantu, atau melindungi temannya. Salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan berbohong.
10. Meniru orangtua
Seringkali orangtua berbohong di depan anda. Misalnya ada tetangga atau tamu yang mencari si ayah atau ibu. Namun karena mereka, orangtua, tidak mau bertemu dengan tamu ini, maka mereka meminta pembantu menyampaikan pesan, “Katakan kalo Bapak atau Ibu lagi tidur”, dan ini mereka lakukan di depan anak mereka. 
Yang lebih parah lagi kalau pas HP mereka bunyi dan mereka tahu yang menelpon adalah orang yang mereka hindari maka mereka meminta anak menjawab telpon sambil dibisiki, “Bilang saja mama lagi pergi dan lupa bawa HP”.
11. Orangtua bertanya sesuatu yang sebenarnya jawabannya sudah jelas diketahui si orangtua
Misalnya si Ibu lagi nonton TV dan di ruang itu ada anaknya bermain, tidak ada orang lain. Tiba-tiba si Ibu mendengar suara gelas pecah dan langsung bertanya, “Siapa yang mecahin gelas?”Ini pertanyaan yang salah karena sebenarnya si Ibu tahu pasti anaknya yang memecahkan gelas. Yang benar pertanyaannya adalah, “Bagaimana kok bisa pecah?”Bila anak mendapat pertanyaan pertama maka besar kemungkinan ia akan berbohong.
12. Bila hukumannya terlalu berat dibandingkan dengan kesalahan yang dilakukan. Bisa dibayangkan bila kita melanggar lampu merah dan hukumannya adalah dendan Rp. 10 juta atau 1 tahun penjara. Siapa yang mau? Semua pasti mati-matian akan berbohong walaupun sebenarnya melanggar lampu merah. Benar kan? Ini adalah suatu bentuk defense mechanism alamiah. Sama dengan anak. Jika anak jujur dan mengakui kesalahannya tapi hukumannya terlalu berat maka anak akan cenderung berbohong demi mencari selamat.
13. Orangtua tidak konsisten
Misalnya ortu berjanji asalkan anak berkata jujur maka mereka tidak akan marah atau menghukum si anak. Eh, saat anak mengaku atau berkata jujur malah dimarahi atau dipukul. Dari sini anak belajar satu hal. Lebih aman berbohong daripada jujur. Kalau perilaku ini sering diulang maka akan menjadi habit.Satu hal lagi, perilaku adalah bentuk strategi yang paling efektif, dari berbagai strategi yang telah dicoba oleh seorang anak, untuk bisa mendapatkan hal-hal yang ia inginkan dengan cepat dan mudah dan dengan tingkat keberhasilan yang paling tinggi.Contohnya kalau anak minta sesuatu dan tidak dituruti orangtua anak bisa mencoba strategi menangis, marah, teriak, memukul,atau berguling-guling di lantai. Jika dengan strategi ini keinginannya tercapai maka ia akan mengulanginya lagi. Bila terjadi repetisi maka akhirnya jadi kebiasaan atau habit. Habit akan mengeras menjadi karakter dan karakter akhirnya yang akan menentukan nasib si anak saat ia dewasa kelak.Ini yang sebenarnya digarap oleh Nanny 911. Mereka mengubah perilaku anak dengan tidak mengijinkan strategi si anak bisa berhasil mendapatkan yang si anak inginkan. Untuk bisa berhasil maka si anak “dipaksa” mencoba strategi baru. Dan begitu strategi yang dilakukan anak adalah yang baik maka strategi ini langsung mendapat penguatan (reinforcement) sehingga menjadi perilaku baru, tentunya yang baik, seperti yang diinginkan oleh orangtua. Dengan mengetahui alasan-alasan tersebut, maka hendaknya orangtua dapat menciptakan komunikasi yang lebih kondusif, agar mendorong anak untuk belajar jujur. Karena ketika anak berkata jujur, maka permasalahan dapat diselesaikan dengan lebih mudah dan tepat sasaran. Dengan demikian kita dapat membentuk konsep moral anak menjadi lebih baik, dan berkembang menjadi pribadi yang positif dikemudian hari.
Semoga bermanfaat
SUMBER : pendidikankarakter.com dan adiwgunawan.com

Senin, 07 Januari 2019

POLA ASUH RAMAH OTAK

HAPPY PARENTING : POLA ASUH RAMAH OTAK

Mengedepankan pengasuhan Otak anak. Kita mengenal banyak sekali karakter manusia. Dalam film anak saja, ada beberapa perilaku seperti Dora ( penolong binatang, suka berpetualang dan terkesan cerdas), Sinchan, Nobita, Giant, Suneo dan masih banyak lagi karakter anak yang menggambarkan kepribadian dilihat dari perilakunya.

Setiap perilaku dalam diri manusia sangat dipengaruhi oleh otak. Percaya diri, mandiri, pesimis, bertanggung jawab, empati, jujur adalah sebagian dari buah pola asuh kepada otak. Bagaimana otak diberikan stimulus sehingga manghasilkan karakter-karakter yang berbeda antar manusia. Setiap bagian otak mempunyai fungsi spesifik. Karenanya, stimulasi atau rangsangan terhadap bagian-bagian otak tersebut sangat mempengaruhi karakter diri yang mengendap dalam diri seseorang. Sama halnya seperti tumbuhan, otak juga berkembang dan tumbuh sejak saat anak berada dalam kandungan sang ibu, usia awal kelahiran, sampai dewasa. Kendati demikian, stimulasi terhadap otak pada anak usia 0-7 tahun merupakan fase penting dalam pembentukan karakter seseorang.Pada usia inilah rangsangan pada otak akan mengendap dan memberikan dampak permanen terhadap karakter anak.
Dapat disimpulkan bahwa kunci membangun karakter anak adalah mengembangkan struktur otak secara optimal sejak usia dini.

Karenanya para orang tua dan guru harus mempunyai pemahaman yang benar tentang pola asuh yang ramah otak. 

Memahami Struktur-Struktur Otak
  Menurut Kushartanti, berat otak kurang lebih  1350 -1400 gram atau lebih kurang
2% dari  berat badan. Tidak ada hubungan langsung antara berat  otak dan besarnya kepala dengan  dengan   tingkat  kecerdasan.  Otak  bertambah  besar, namun tetap berada  dalam tengkorak sehingga semakin lama akan    semakin  berlekuk-lekuk.  Semakin  dalam  lekukan pertanda  semakin    banyak  informasi  yang  disimpan,  dan
semakin  cerdaslah pemiliknya.Ketika  anak  memasuki usia 3 tahun, sel  otak telah membentuk sekitar 1.000  triliun jaringan koneksi/sinapsis. Jumlah ini 2 kali lebih banyak dari yang sel-sel yang ada pada orang dewasa. Setiap  rangsangan atau stimulasi yang diterima  anak akan melahirkan sambungan baru  atau memperkuat sambungan yang sudah  ada (Suyadi, 2014). Eksplorasi otak selama era otak (Brain Era) yaitu tahun 1990 – 2000 berhasil menunjukkan fakta  bahwa  otak  menyediakan  komponen  anatomis  untuk  aspek  rasional  (Intelligence Quotient = IQ), aspek emosional (Emotional Quotient = EQ), dan aspek spiritual (Spiritual Quotient = SQ). Seperti diketahui bahwa dalam satu kepala memang ada tiga cara berpikir
yaitu  rasional,  emosional, dan  spiritual. Penemuan  mutakhir dalam  neurosains  semakin  membuktikan bahwa bagian-bagian tertentu otak bertanggung jawab dalam menata jenis-jenis  kecerdasan  manusia.  Kecerdasan  matematika  dan  bahasa  berpusat  di  otak  kiri, meskipun untuk matematika tidak terpusat secara tegas di otak kiri, sedangkan untuk bahasa tepatnya di daerah Wernicke dan Brocca. Kecerdasan musik dan spasial berpusat di otak kanan. Kecerdasan kinestetik sebagaimana dimiliki oleh olahragawan berpusat di daerah motorik cortex cerebri. Kecerdasan intra pribadi dan antar pribadi ditata
pada  sistem limbik  dan  dihubungkan dengan  lobus  prefrontal maupun  temporal (Snell, 1996). Setidaknya ada tujuh jenis kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner (1999) yaitu: linguistik, matematika, spasial, kinestetik, musik, antar pribadi, dan interpribadi. Selanjutnya Gardner  juga  menambahkannya  lagi  dengan  tiga kecerdasan  penting  yaitu:  kecerdasan naturalis,  eksistensia,  dan  spiritual.  Meskipun  eksplorasi  telah  dilakukan  secara 4 mengagumkan, namun masih banyak misteri yang belum terungkap. Dari apa yang telah Terungkap dirumuskan 10 Hukum Dasar Otak (Dryden, 2001) sebagai berikut:
1. Otak menyimpan informasi dalam sel-sel sarafnya.
2. Otak mempunyai komponen untuk menciptakan kebiasaan dalam
berpikir dan berperilaku.
3. Otak menyimpan informasi dalam bentuk kata, gambar, dan warna.
4. Otak tidak membedakan fakta dan ingatan. Otak bereaksi terhadap ingatan sama persis
dengan reaksinya terhadap fakta.
5. Imajinasi dapat memperkuat otak dan mencapai apa saja yang dikehendaki.
6. Konsep dan informasi dalam otak disusun dalam bentuk pola-pola.
7. Alat indra dan reseptor saraf menghubungkan otak dengan dunia luar. Latihan indra dan
latihan fisik dapat memperkuat otak
8. Otak tak pernah istirahat. Ketika otak rasional  kelelahan dan tak dapat  menuntaskan
pekerjaan, otak intuitif akan melanjutkannya
9. Otak dan hati berusaha dekat. Otak yang diasah terus menerus akan menjadi semakin bijak
dan tenang.

Beberapa alasan mengapa mambangun karakter anak harus dengan mengembangkan struktur otak secara optimal sejak usia dini karena perkembangan otak 95% terjadi pada saat anak berusia di bawah tujuh tahun.Selain itu pada anak usia dini atau pada tiga tahun pertama adalah fase membangun fondasi struktur otak yang dampaknya akan sangat permanen. Karena itu semua pengalaman masa usia dini memegang kunci penting dalam membangun fondasi dan semua kemampuan otak anak.
Tidak heran apabila lingkungan anak tempat dia tumbuh tidak baik seperti susila, emosi, motorik, dan kognitif, semua itu akan menentukan potensi anak juga memiliki karakter kurang baik atau tidak berkembang secara positif.
Sebaliknya, apabila lingkungan anak aman, penuh kasih sayang dan kaya dengan beragam stimulasi positif lainnya, maka semua potensi anak yang positif juga akan berkembang secara optimal.Karena adanya stimulus itu maka pembentukan synapse pada otak anak akan terfokus pada bagian otak yang merespons ancaman dari lingkungan luar.

Ada beberapa alasan logis yang menjadi faktor terbentuknya perilaku negatif anak, misalnya anak-anak yang mengalami stres, kekerasan fisik, atau kekerasan seksual.Anak-anak yang mengalami stres kronis karena kurang mendapat perhatian dan kasih sayang, maka akan lebih menstimulasi bagian otak yang merespon untuk bertahan dan menyelamatkan diri.
Bagian otak reptil akan terus distimulasi dan menjadi dominan, sementara bagian otak cortex tidak diaktifkan, sehingga anak pada masa dewasa tidak memiliki kemampuan berpikir dan mengontrol emosi secara baik.Bahkan emosi negatif yang kronis akan membuat otak terbiasa memproduksi cortisol yang akan membuat adrenalin juga tinggi. Akibat tingkat cortisol dalam darah yang tinggi akan membuat pribadi anak akan cepat depresi ketika usia dewasa, sakit jiwa, bahkan fungsi imunitas tubuh juga rendah.

"Dampak kurangnya stimulasi atau eksplorasi terhadap perkembangan otak dibuktikan pula pada hewan yang dipelihara di kebun binatang memiliki otak 20%-30% lebih kecil dibandingkan dengan hewan yang dipelihara di alam liar," ujar Ratna Megawangi. Untuk membentuk karakter positif pada anak, Ratna memiliki tips pola asuh yang ramah otak.
Misalnya dengan memberikan pengalaman emosi positif seperti dekapan.Agar upaya membentuk karakter anak semakin kuat, perlu juga melibatkan otak kiri dan kanan dalam membentuk karakter anak.Anak berusia dua tahun sudah mulai dapat mengetahui benar dan salah. Otak kanan akan menyatukan perasaan benar atau salah yang merupakan domain otak kanan dengan pengetahuan baik dan buruk yang merupakan domain otak kiri.Ratna menganjurkan kepada para orang tua untuk menjadi pribadi yang lembut agar menjadi tempat pertumbuhan karakter yang positif bagi anak.Selain karakter orangtua, lingkungan sekolah juga menjadi penentu semakin maksimalnya perkembangan karakter anak. Maka ada anjuran untuk memilih sekolah yang bebas dari ketakutan, beban, ancaman, dan ejekan.Kalau mungkin, pilihlah sekolah yang memiliki program eksplisit pendidikan karakter seperti misalnya brain-based learning, integrated learning, cooperative learning, contextual learning, dan lainnya.
SUMBER : www.researchgate.net

Jumat, 04 Januari 2019

MARKET DAY SDIT AL-INSAN KAB.PINRANG


SDIT AL-INSAN  yang terletak di jalan Badak Lalle lama Maccorawalie kec.watang sawitto. memiliki jumlah peserta didik saat ini 122. Sekolah yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman selalu berkomitmen memberikan pendidikan berkualitas. Tidak sekedar hanya menyajikan nilai-nilai keislaman, akan tetapi peserta didik dibekali kemampuan eunterphnaership, kemandirian untuk menghadapi tantangan perdagangan bebas dimasa akan datang.kemampuan problem solving.latihan peran peserta didik sebagai penjual akan merangsang kreativitas berwirausaha. Market Day melatih jiwa berwirausaha peserta didik

Kegiatan ini dirangkai dengan pertemuan orang tua peserta didik untuk melalukan parenting bersama dengan guru, sebagai wujud sinergi dan keterpaduan guru dan orang tua, mengetahui perkembangan peserta didik selama triwulan pertama disemester satu

Anak-anak yang mengenal dunia wirausaha sejak dini, akan mendapati manfaat untuk bekal masa depan kelak. Pada tahapan usia yang terbilang belia, anak-anak yang belajar menumbuhkan jiwa wirausaha, akan tumbuh menjadi pribadi yang kreatif. Kreativitas yang terlatih sejak dini, termasuk melalui berbagai ajang dan kegiatan kewirausahaan, menjadi modal utama produktivitas dan kemandirian anak kala ia dewasa. Salah satu ajang wirausaha yang memberi kesempatan pada anak untuk berkreasi dan berani membuat terobosan serta mepresentasikannya, adalah Kidpreneur. Menjadi pribadi kreatif Bagi psikolog anak, Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto, Kidpreneur diikuti oleh anak-anak yang kreatif dan berani mencoba, dengan berbagai terobosannya. Selain melatih anak untuk kreatif sejak dini, kegiatan ini juga menjadi salah satu cara mengenalkan profesi entrepreneur pada anak-anak
Wirausaha (entrepreneurship) adalah suatu usaha yang dikembangkan dengan metodologi atau konsep yang dibentuk dengan topangan skill (kemampuan) yang bernilai khas, yang didukung dengan willing, dan capital yang memadai serta komprehensif kemampuan atas usaha tersebut. Selain itu juga wirausaha merupakan suatu cara memanfaatkan peluang sedemikian rupa, dimana tanggapan terhadap peluang usaha yang terungkap dalam seperangkat tindakan,pada akhirnya akan membuahkan hasil berupa organisasi usaha yang melembaga, produktif dan inovatif. Wirausaha pada dasarnya bertujuan untuk mencapai usaha yang inovatif  dan bersinergi aktif di dunia bisnis. Tentu ini tidak lepas dari usaha untuk berkerja keras dan berusaha secara inovatif dan kreatif.
Dalam pandangan Islam, bekerja dan berusaha, termasuk berwirausaha boleh dikatakan  merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia karena keberadaannya sebagai khalifah fil-ardh dimaksudkan untuk memakmurkan bumi dan membawanya ke arah yang lebih baik. Dalam Islam, anjuran untuk berusaha dan giat bekerja sebagai bentuk realisasi dari kekhalifahan manusia tercermin dalam surat Ar-Ra’d: 11.
"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS. Ar-Ra'd:11)
SUMBER  Kompas.com dengan judul "Pentingnya Berwirausaha Sejak Dini", https://edukasi.kompas.com/read/2012/09/10/13250447/pentingnya.berwirausaha.sejak.dini

Kamis, 03 Januari 2019

PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU SDIT AL-INSAN PINRANG



SYARAT-SYARAT PENDAFTARAN

  1. Berusia 6 - 7 tahun (lahir minimal 1 juli 2013)
  2. FC akte kelahiran dan FC kartu keluarga (diperlihatkan saat pengambilan formulir)
  3. FC surat keterangan TK/Ijazah Taman Kanak-kanak (dikumpul setelah lulus) 
  4. Pas Foto berwarna ukuran 3 x 4 dan 2 x 3, masing-masing sebanyak 3 lembar
  5. Formulir dikembalikan secepatnya ke panitia Penerimaan Peserta Didik Baru di kantor SDIT Al-INSAN PINRANG Jl Badak Lalle lama Kel. Maccorawalie Kec. Watang Sawitto Kab. Pinrang (Belakang BRI unit SAWITTO

MATERI SELEKSI : Tes Kematangan Siswa dan wawancara orang tua

BATAS PENDAFTARAN SAMPAI KUOTA TERPENUHI


WUJUDKAN PENDIDIKAN BERKUALITAS BERSAMA SDIT AL-INSAN PINRANG


Gerakan Gemar Membaca (GGM) KELAS V SDIT AL-INSAN PINRANG

Gerakan Gemar Membaca  (GGM) kelas V SDIT Al-Insan Kab.Pinrang

Membaca dapat meningkatkan kemampuan anak untuk memahami berbagai konsep dengan mudah. Selain itu dengan membaca dapat mengembangkan ketrampilan berpikir kritis pada anak-anak. Dengan membaca juga meningkatkan kosakata seseorang serta kemampuan komunikasi.
Anak-anak yang senang membaca mampu berkonsentrasi pada pelajaran mereka daripada yang tidak. Dalam hal berkomunikasi dengan orang lain, anak yang gemar membaca lebih aktif dibanding yang tidak. Ini karena mereka memiliki banyak pengetahuan dan kosakata dari bacaan yang dibaca. 
Buku ini merupakan jendela dunia, sehingga perlu membaca walaupun hanya sebentar. Di mulai dari lingkungan keluarga kemudian di sekolah dan masyarakat. Anak di biasakan untuk membaca bacaan yang sesuai dengan karakteristik umurnya. Dengan begitu anak akan mengeksplorasi banyak sekali pengetahuan yang di dapat mereka. Apalagi usia anak sekolah dasar mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi.
Namun sangat disayangkan, budaya membaca di Indonesia sangat rendah bahkan kondisi minat baca masyarakat cukup memprihatinkan. Mirisnya, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.Peringkat Indonesia persis berada di bawah Thailand yaitu 59 dan di atas Bostwana yang mendaat peringkat 61. Padahal, dari segi infrastuktur untuk mendukung membaca peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Sangat disayangkan jika infrastruktur bangsa kita lebih baik namun minat baca masyarakatnya rendah.
Di sekolah-sekolah telah tersedia perpustakaan yang menyediakan banyak buku bacaan dari non fiksi hingga fiksi. Kenyataannya buku yang di perpustakaan hanya sebagai koleksi bukan untuk dibaca. Terutama di sekolah dasar banyak anak-anak yang masih mengalami kesulitan dalam membaca disebabkan karena mereka malas untuk mengeja kata dan membaca buku. Padahal perpustakaan telah di sediakan di setiap sekolah. 
Buku memiliki banyak kelebihan daripada media elektronik zaman sekarang. Kenyataannya isi dari sebuah buku lebih lengkap dan jelas. Untuk buku bacaan anak, buku lebih menarik dengan gambar-gambar yang di sajikan dengan gambar berwarna. Sayangnya, anak-anak lebih senang menonton televisi dan bermain gadget daripada membaca sebuah buku. Begitu pula orang dewasa yang lebih sering terpaku pada layar komputer. Zaman yang canggih ini membuat banyak manusia malas untuk membaca atau menemukan sesuatu yang sulit dimengertinya. Mereka lebih memilih menggunakan gadget yang terkesan lebih praktis
Gerakan Gemar Membaca (GGM) bisa melibatkan orang tua peserta didik dan peserta didik itu sendiri.(1) Orang tua memiliki peranan penting dirumah mendampingi anak dan menyiapkan buku-buku bermanfaat kemudian peserta didik bisa menukarkan buku yang mereka miliki sehingga koleksi bacaannya melebihi yang mereka miliki. (2)Kunjungan ke perpustakaan daerah menjadikan solusi bagi sekolah yang kurang memiliki koleksi buku. perpustakaan daerah memiliki sarana buku dengan berbagai koleksi yang dimiliki dan perpustakaan keliling yang bisa mendatangi sekolah-sekolah. (3). Membaca dijadikan sebagai sarapan pagi. setiap pagi peserta didik disuguhkan buku sebelum mereka belajar setiap mapel dikelas
SUMBER : www.kompasiana.com

BAHAYA GADGET DAN CARA MENGATASINYA

Beberapa orang tua juga membelikan anak-anaknya handphone, agar mudah memonitor keberadaan anak mereka. Di daerah-daerah yang rawan ter...

Generasi Milenial paham Al-Quran

Cari Blog Ini